NameFull NameMATSUMOTO SHIMA
Kanji松本志真
Nick NameShima, Shiccin
PronounceSHEE-MAH
MeaningSomeone with genuine will and ambition
Place of BirthTokyo, Japan
Date of BirthFebruary 20th
GenderFemale
NationalityJapanese
Religion BeliefCatholic
ZodiacPisces
OrientatiomHeterosexual
OccupationCollege Student
AffiliationHakusenzai University
MajorMedical Science

Height
5'6"

Weight
106lbs

3-sizes
32-24-25inch

Shoe Size
245mm / 6 / 39

Clothing Size
XS to S

Skin
Porcelain

Hair
Black

Eye
Dark Brown

Face Claim
TWICE Tzuyu

Voice Claim
TWICE Tzuyu

ADDITION

  • Sering mengganti gaya dan warna rambut

  • Tidak jarang menggunakan lensa kontak.

  • Selain ketika belajar, beberapa kali akan tampak menggunakan kaca mata.

  • Terbilang cukup memperhatikan penampilan.

ㅤㅤMatsumoto Shima, satu dari sekian puan dengan beragam mimpi yang ingin digenggam. Hanya saja mimpi itu mau tak mau harus diredam sebab ego orang tua. Tumbuh dalam keluarga yang berkecukupan membuatnya tak mengalami kesulitan dalam bidang pendidikan. Apa yang diinginkan akan dipenuhi selama ia menjadi anak yang penurut tanpa tetapi membuat Shima selalu bekerja keras demi mencapai satu atau dua hal yang ia inginkan meski remeh.

ㅤㅤHidup dalam bayang sang kakak membuatnya menjadikan Ryuhei sebagai panutan, yang mana acapkali membuat Ryuhei merasa pilu melihat Shima yang seolah hidup tanpa pernah sekalipun menuntut dan memberontak. Benar-benar sebuah gambaran gadis manis yang penurut.

ㅤㅤShima adalah sosok yang haus akan pujian. Ia senang apabila mendapat kalimat-kalimat penuh kebanggaan yang ditujukan padanya sebab dapat membantunya meninggkatkan rasa percaya dalam diri. Ia juga sosok yang senang bertukar kata dengan orang lain, meski kesan awal ia akan tampak malu dengan semburat merah muda yang menghiasi ke dua sisi pipi (oh, yang satu ini berlaku jika bertukar pandang dengan sosok yang ia kagumi).

ㅤㅤJika tengah merasa malu, apa yang diucap akan berbanding terbalik dengan apa yang ia rasa maupun ia pikirkan. Di sisi lain bisa menjadi sosok yang amat berisik jika sudah mengenal Shima, senang bercerita tentang hal yang menurutnya menarik. Selebihnya Shima hanya gadis muda yang tengah beranjak tumbuh menjadi gadis dewasa yang gemar menghabiskan waktu mengunjungi tempat satu ke tempat lainnya, sebab bagi Shima melakukan perjalan ke kota ataupun Negara lain dapat membuatnya sedikit merasakan kebebasan.


 
Kind■■■□□
Charismatic■■■■□
Confidence■■■■□
Polite■■■■□
Discipline■■■■□
Honest■■□□□
Patience■■■■□
Wise■■□□□
ㅤ ㅤ 
Ambitious■■■■□
Competitive■■■□□
Emotional■■□□□
Charm■■■□□
Impulsive■■■■□
Sarcastic■■□□□
Stubborn ■■□□□
Childish■■□□□
Demanding■■□□□
Envy ■□□□□
Greedy ■■□□□
Lazy ■□□□□
Selfish ■■■□□
Revenge■■■□□

  • Namanya diambil dari 志 (shi) yang berarti “purpose, will, determination, aspiration, ambition” dan 真 (ma) yang berarti “real, genuine.” Dan nama Shima (智秀) sendiri memiliki arti seseorang yang memiliki tekad kuat dan ambisi yang tulus.

  • Mampu memainkan biola sejak usia enam tahun.

  • Memiliki alergi terhadap debu dan dingin, atau yang acapkali disebut Rhinitis Alergi.

  • Memiliki riwayat asma terkontrol.

  • Kakak pertamanya, Matsumoto Ryuhei merupakan seorang dokter yang tengah mengambil pendidikan lanjutan spesialisi bedah di Universitas Tokyo.

  • Sedangkan kakak keduanya, Matsumoto Kaiji merupakan seorang pengidap autisme,di mana Kaiji memiliki IQ terbilang tinggi dan sangat pandai dalam melukis.

  • Memiliki kepribadian obsesif kompulsif berupa merasa terganggu jika melihat hal-hal yang kurang simetris.

  • Sangat menyukai seni sejak kecil, dan memiliki mimpi untuk menjadi seorang pelukis.

  • Beberapa kali kerap menghabiskan waktu luang dengan melukis secara diam-diam.

  • Memiliki buku sketsa yang selalu disimpannya di laci meja belajar.

  • Merupakan seorang night-tinker, di mana Shima selalu menghabiskan waktu malamnya dengan belajar dibandingkan untuk tidur.


FoodMeat
Fruit Strawberry
DrinkTea
Topping PizzaPepperoni
ColorRuby red and Monochrome
SportEquestrian, Figure Skating
FlowerRed Rose
PetCat
MusicPop, Classic
Favorite SongFinding Hope - 3:00AM
SoundViolin, Rain
MovieAction
FragrantVanilla
SeasonWinter
Weather Raining
Time Dawn

Ketika harga diri menjadi nang utama, kehancuranpun siap menyapa.
Ketika kesombongan berkuasa, kejatuhanpun menanti di depan mata.

Adalah sebuah kisah perihal sebuah kejayaan dengan kehancurannya yang perlahan. Di mana mimpi dan harapan terkikis oleh sebuah tuntutan.

ㅤㅤJika kita berbicara perihal awal mula kehidupan seseorang, maka tidak salah apabila saya memulainya dari sebuah sejarah. Sebuah peristiwa masa lalu yang melibatkan hidup dan mati sekumpulan manusia yang bertaruh demi bangsa dan martabat, demi kelangsungan hidup di masa depan.

ㅤㅤAdalah Matsumoto Jun, atau yang acapkali dikenal sebagai Matsumoto Ryōjun, seorang putra dari Sato Taizen, pendiri Universitas Juntendo. Pada tahun-tahun terakhir periode feodal, ia sempat belajar kedokteran di Juntendo Medical Institute, yang dibangun oleh ayahnya, di Prefektur Chiba saat ini, sebelum pindah ke Nagasaki untuk mempelajari kedokteran Barat di bawah pemerintahan Belanda yang terkenal, dr. J.L.C Pompe van Meerdervoort. Pada tahun 1862, Matsumoto menjadi dokter shōgun, dan kemudian menjadi kepala institut medis pada tahun berikutnya. Dia adalah salah satu teman baik pendekar pedang Kondo Isami, dan bertanggung jawab atas perawatan medis Shinsengumi.

ㅤㅤMatsumoto Jun menjadi tabib istana shōgun Tokugawa Iemochi pada tahun 1864, dan bertugas dalam Perang Boshin sebagai dokter tentara keshogunan pada tahun 1868. Ia juga bertugas dalam Perang Ōu-Aizu yang mana setelahnya dia mulai bekerja untuk Kementerian Militer. Di sana, Matsumoto Jun menjadi direktur pendiri rumah sakit tentara, yang mana sekarang menjadi National Center for Global Health and Medicine Hospital.

ㅤㅤSedang Mori Rintarō, putra tertua dari keluarga dokter daimyo dari Domain Tsuwano. Seorang dokter lulusan Universitas Kekaisaran Tokyo yang kemudian menjadi petugas medis di Rumah Sakit Angkatan Darat Tokyo, atau yang saat ini disebut National Center for Global Health and Medicine Hospital. Kemudian, pada tahun 1884, dia pindah ke Jerman untuk mempelajari kebersihan militer. dan menjadi kepala Sekolah Kedokteran Angkatan Darat setelah menyelesaikan studinya.

ㅤㅤSebuah latar yang sama dari dua orang yang berbeda, menjadikan sebuah awal dari kejayaan sebuah keluarga. Sebuah awal dari bersatunya Keluarga Matsumoto dan Keluarga Mori, menjadikan dua keduanya sebagai keluarga dengan keturunannya yang tak lepas dari dunia medis.


ㅤㅤSetelah sekian lama menjalin kerja sama dia atas kertas, pada akhirnya keluarga Matsumoto yang kala itu dipimpin oleh Matsumoto Shinzō menikahkan putera pertamanya Matsumoto Naoto—seorang dokter spesialis bedah thoraks dan kardiovaskular, dengan putri keluara Mori—Mori Hanako, yang juga bekerja sebagai seorang dokter spesialis bedah saraf. Pernikahan keduanya yang berawal dari sebuah ‘pernikahan politik’ tersebut rupanya membawa kedua keluarga menjadi keluarga yang dikenal sebagai keluarga sempurna tanpa cela.

ㅤㅤAkan tetapi kesempuranaan itu seketika ‘ternodai’ atas kelahiran putra kedua mereka, yang mana diketahui bahwa sang buah hati tak seperti anak pada umumnya, tak seperti anak biasanya yang mampu bergaul, bermain dan berkembang secara normal.

ㅤㅤMereka bilang, si tengah Matsumoto Kaiji adalah sebuah kutukan sebab kepongahan.

ㅤㅤHingga sebuah cahaya yang diyakini harapan itu hadir seiring dengan kelahiran dari seorang Nona yang kelak menjadi tumpuan, dilimpahkan tuntutan pula berbagai kewajiban ‘tuk mengemban nama baik keluarga, seorang Nona dengan asma Matsumoto Shima.

Tiap persona memiliki warna yang menceritakan kisah masing-masing.

Lalu, apa warna dan kisahmu?

Saya tidak tahu kapan dan bagaimana awal mula warna hidup tercipta, entah sejak kelahirankah atau mungkin jauh lebih awal dari itu. Bisa jadi awal mula warna yang akan saya torehkan di atas kavas kehidupan sudah tertuang sejak ambisi itu datang, sejak ego itu tumbuh dan berkembang, sejak rasa ingin ‘tuk mendapat pengakuan juga kekuasaan itu merayap dan enggan untuk menghilang. Ketika itu pula pada penghujung musim dingin kota Tokyo, pada hari kelahirannya, masa depan untuknya sudah tertuang sebagai tinta hitam yang tak akan pernah hilang atau terganti meski dibumbui tinta lain sebagai pelapis paling luar.

Ia, Matsumoto Shima, sang puan yang tumbuh dengan segala warna yang perlahan menjadi usang.

ㅤㅤPendidikan awal dari seorang anak adalah berasal dari orang tua.

ㅤㅤSepertinya kalimat tersebut menjadi pegangan untuk banyak orang tua di seluruh dunia, termasuk pasangan Matsumoto Naoto juga Mori Hanako. Keduanya meyakini bahwa kualitas pendidikan kedua anaknya berawal dari apa yang mereka berikan di rumah. Salah satunya adalah fasilitas dengan kualitas nomor satu. Makanan, pakaian, bahkan sampai mainan yang diperoleh oleh kedua buah hati mereka—Matsumoto Ryuhei dan Matsumoto Shima—selalu memiliki nominal harga yang cukup tinggi.

ㅤㅤBahkan hingga pendidikan pun, sang kepala rumah tangga enggan memasukkan keduanya apabila intitusi yang bersangkutan tidak cukup bagus, menurutnya.

ㅤㅤTumbuh dan berkembang di dalam lingkungan Matsumoto rupanya masih dirasa kurang bagi Naoto dalam mendidik kedua anaknya, sehingga keputusan itu pun di buat. Keputusan untuk memasukkan kedua anaknya ke Gakushūin—sebuah institusi pendidikan yang pada dasarnya dibangun bagi mereka yang memiliki gelar kehormatan, mereka para bangsawan, pula mereka para keturunan takhta krisantemun.

ㅤㅤㅤㅤTunggu sebentar, hanya Ryuhei dan Shima saja yang mendapatkan kulaitas pendidikan terbaik? Lalu bagaimana dengan Kaiji si tengah Matsumoto?

ㅤㅤKeberadaan Matsumoto Kaiji seolah menjadi momok besar bagi keluarga yang seharusnya lebih mengerti kondisi sang buah hati dari siapapun. Lebih memahami bagaimana cara ‘tuk hadapi apa-apa yang perlu dilaku dan tidak boleh dilaku pada anak dengan kebutuhan khusus seperti yang menimpa Matsumoto Kaiji.

ㅤㅤNamun, selama hidupnya Shima tak pernah melihat sang ibu maupun sang ayah tampak peduli pada kakak keduanya tersebut. Kedua orangtuanya selalu tampak sibuk dengan segudang pekerjaan yang seolah tak pernah lelah menghampiri meski di akhir pekan. Belum lagi sang ibu yang mengikuti jejak ayahnya yang jua turun ke dalam dunia politik dan menjadi Menteri Kesehatan di bawah pimpinan Perdana Menteri Jepang kala itu membuat perhatian yang seharusnya dijatuhkan kepada ketiga buah hati Matsumoto perlahan terkikis.

ㅤㅤShima sadar betul bahwa apa yang dilaku oleh kedua orangtuanya tak lepas dari memenuhi apa yang ia dan kakak-kakaknya butuhkan, benar ‘kan?

ㅤㅤNaoto sendiri kerap menekankan buah hatinya ‘tuk rajin belajar agar mampu meraih masa depan yang cemerlang. Terlebih tekanan dari kedua orang tua Naoto yang tak lain adalah kakek dan nenek Shima yang mengharapkan cucu-cucunya kelak dapat meneruskan profesi yang diyakini menjadi profesi keluarga; menjadi seorang dokter yang mumpuni.

ㅤㅤLalu apa yang sebetulnya diinginkan oleh Shima? Jawabannya adalah, “Apa yang ayah dan ibu inginkan adalah yang terbaik untukku.”

ㅤㅤBagai hidup dalam sangkar, Shima tumbuh bagai boneka ventriloquist yang bahkan apa yang keluar dari mulutnya sudah diatur dan diarahkan oleh kedua orang tuanya. Namun, bukan tanpa alasan ia berlaku demikian. Adalah masa ketika diri memasuki usia bangku sekolah dasar, masa ketika anak kecil pada umumnya tenggelam dalam berbagai kegiatan yang menyenangkan sesuai dengan minat masing-masing. Namun, Shima tidak merasakan itu semua. Apa yang dilaku tak jauh dari apa yang sudah dipersiapkan. Belajar, belajar dan belajar.

ㅤㅤㅤㅤ“Menggambar itu membuang waktu.”
ㅤㅤㅤㅤ“Melukis itu tidak berguna.”

ㅤㅤKalimat tersebut acapkali terdengar ketika Shima menunjukkan hasil karyanya pada sang ayah, membuat Shima kehilangan kepercayaan atas dirinya, membuatnya merasa apa yang dilakukan adalah sia-sia, membuatnya mengubur mimpi ‘tuk bersatu dengan warna yang ia ciptakan.

ㅤㅤHanya Kaiji yang mengerti akan inginnya, hanya Kaiji yang mendukungnya dalam mencipta warna, hanya Kaiji yang dapat mengukir kurva sempurna pada irasnya.

ㅤㅤIkatan antara Shima dan Kaiji kian dekat berkat warna. Dalam tiap kesempatan Shima selalu melukis dan mewarnai bersama Kaiji. Dengan dalih menemani sang kakak itu pula Shima akhirnya dapat menoreh segala rasa di atas kanvas. Namun, orangtua tetaplah orangtua, sekeras apapun ia berusaha keputusan kedua orangtuanya tak dapat diganggu gugat.

ㅤㅤMatsumoto Shima harus menjadi seorang dokter seperti sang kakak—Matsumoto Ryuhei.

ㅤㅤBerkali-kali dirinya harapannya dibuat hancur, terkikis oleh tuntutan demi tuntutan yang tak pernah lelah datang menghampiri. Shima tak lagi memiliki rasa untuk warna, tak lagi memiliki semangat untuk warnai hidupnya. Hingga pada akhirnya ia tiba pada sebuah titik, di mana dirinya menyalahkan orang yang amat ia sayangi.


ㅤㅤㅤㅤSeandainya ...
ㅤㅤㅤㅤSeaidainya Kaiji tidak seperti sekarang.
ㅤㅤㅤㅤSeandainya Kaiji seperti orang normal lainnya.
ㅤㅤㅤㅤSeandainya Kaiji tidak berkebutuhan khusus.
ㅤㅤㅤㅤMungkin ...
ㅤㅤㅤㅤMungkinkah dirinya dapat mencipta warna sebagaimana inginnya?


ㅤㅤDirundung perasaan yang bahkan tak ia mengerti, hubungan antara Shima dan Kaiji tak lagi seperti dahulu, meninggalkan tanda tanya besar dalam benak Ryuhei—si sulung—terhadap adik perepuan satu-satunya. Bahkan beberapa kali Ryuhei mendapati Shima seolah tampak abai terhadap presensi Kaiji, seolah Shima yang dikenalnya tak lagi ada.

ㅤㅤSebab bagi Shima, dirinya tak lagi memiliki pilihan. Ia hanyalah satu dari sekian anak yang dintuntut ‘tuk memenuhi ego orangtua dengan sebuah iming-iming, “Selama kau menjadi gadis penurut dan seperti kakakmu, kau akan mendapatkan apapun yang kau mau.”